Tren Teknologi 2026 untuk Custom Software di Indonesia: AI, Cloud, dan Low-Code

D
Penulis: Tim doIT
5728 Dilihat
tren software house 2026

Di tengah percepatan transformasi digital di Indonesia, custom software menjadi tulang punggung bagi bisnis untuk tetap kompetitif. Pada tahun 2026, pasar digital software solutions di Indonesia diproyeksikan mencapai USD 1.48 miliar, tumbuh dari USD 1.36 miliar di 2025, dengan CAGR 8.62% hingga 2031. Tren utama yang mendominasi adalah integrasi AI, adopsi cloud-native, dan platform low-code/no-code, yang tidak hanya mempercepat pengembangan tetapi juga menjadikan solusi lebih adaptif terhadap perubahan pasar. Sebagai contoh, DOIT adalah software house Indonesia yang berdiri sejak 2017, berpengalaman lebih dari 8 tahun dalam membangun sistem dan aplikasi custom, terdaftar sebagai PKP, dan fokus pada solusi yang scalable. Dengan pemahaman mendalam tentang kebutuhan lokal, perusahaan seperti ini siap membantu bisnis memanfaatkan tren ini untuk inovasi berkelanjutan.

1. AI-Driven Development: Dari Alat Pendukung ke Fondasi Utama

Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan inti dari custom software development di 2026. Di Indonesia, pemerintah mendorong adopsi AI melalui program seperti sertifikasi 2.5 juta profesional hingga 2030, didukung investasi Microsoft sebesar USD 1.7 miliar untuk infrastruktur cloud dan AI. Tren ini mencakup:

  • Generative AI dan Large Language Models (LLM): AI membantu developer dalam coding otomatis, minimasi bug, dan prediksi kebutuhan sistem. Misalnya, dalam custom software untuk e-commerce, AI bisa mengintegrasikan predictive analytics untuk manajemen stok real-time, mengurangi waktu pengembangan hingga 30-50%.
  • AI untuk Personalisasi dan Otomatisasi: Bisnis retail dan fintech di Indonesia semakin menggunakan AI untuk custom solutions seperti intelligent process automation (IPA), yang memahami konteks bisnis lokal seperti regulasi pajak atau integrasi dengan sistem pembayaran digital.
  • Tantangan dan Peluang: Meski minat tinggi, hanya 26% organisasi di Indonesia yang berhasil deploy AI sepenuhnya. Ini membuka peluang bagi software house untuk menyediakan solusi hybrid yang menggabungkan AI dengan keamanan data, terutama mengingat ancaman cybersecurity yang meningkat dengan penggunaan Gen-AI.

Dengan AI, custom software tidak hanya efisien tapi juga cerdas, membantu UMKM hingga enterprise menghadapi era "Intelligent Era" di 2026.

2. Cloud-Native dan Hybrid Architecture: Skalabilitas di Era Digital

Cloud computing terus mendominasi, dengan pangsa pasar cloud di Indonesia mencapai 65.23% pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh 15.93% CAGR hingga 2031. Untuk custom software, tren ini berfokus pada:

  • Cloud-Native Applications: Pendekatan ini memungkinkan deployment cepat dan skalabilitas tinggi, ideal untuk bisnis Indonesia yang menghadapi pertumbuhan e-commerce pesat. Contohnya, integrasi dengan hyperscale data centers seperti yang didukung Microsoft, memastikan sistem tahan terhadap lonjakan traffic.
  • Hybrid Cloud untuk Fleksibilitas: Kombinasi on-premise dan cloud publik memenuhi regulasi lokal seperti PDPA (Perlindungan Data Pribadi), sambil mengoptimalkan biaya. Tren ini diperkuat oleh mandat pemerintah untuk cloud-first procurement, mendorong custom software yang adaptif terhadap workload hybrid.
  • Integrasi dengan Tren Lain: Cloud menjadi fondasi untuk AI dan IoT, memungkinkan custom solutions seperti ERP berbasis cloud yang terintegrasi dengan data analytics real-time.

Di Indonesia, di mana ekonomi digital diprediksi berkontribusi USD 150 miliar ke GDP pada 2025, cloud-native custom software adalah kunci untuk future-proofing bisnis.

3. Low-Code/No-Code Platforms: Demokratisasi Pengembangan Software

Low-code dan no-code bukan pengganti developer, tapi akselerator untuk custom software. Di 2026, platform ini semakin populer di Indonesia, di mana kekurangan 9 juta talenta IT hingga 2030 menjadi tantangan utama. Tren utama meliputi:

  • Percepatan Development: Dengan tools seperti OutSystems atau Microsoft Power Platform, bisnis bisa membangun aplikasi custom tanpa coding mendalam, mengurangi waktu deployment hingga 80%. Ini cocok untuk UMKM yang butuh solusi cepat seperti CRM atau workflow management.
  • Kombinasi dengan Custom Development: Perusahaan menggabungkan low-code untuk prototipe cepat dan custom coding untuk fitur kompleks, mencapai fleksibilitas maksimal. Di Indonesia, platform lokal seperti Mekari Officeless mendukung integrasi dengan ekosistem bisnis, termasuk AI-assisted automation.
  • Manfaat untuk Industri: Dari BFSI hingga retail, low-code memungkinkan customisasi tanpa biaya tinggi, dengan fokus pada security by design untuk menghadapi ancaman cyber.

Tren ini mendemokratisasi teknologi, memungkinkan lebih banyak bisnis Indonesia berinovasi tanpa ketergantungan total pada ahli IT.

Kesimpulan: Siapkan Bisnis Anda untuk 2026

Tahun 2026 menandai pergeseran dari hype ke maturity di AI, cloud, dan low-code untuk custom software di Indonesia. Bisnis yang adaptif akan memimpin pasar, didukung oleh pertumbuhan pasar custom software senilai USD 5 miliar, didorong digital transformation dan investasi teknologi. Jika Anda mencari partner terpercaya, pertimbangkan jasa pembuatan sistem custom yang scalable dan sesuai tren ini. Dengan memanfaatkan tren ini, bisnis Anda tidak hanya bertahan, tapi berkembang di perkembangan teknologi yang kian masif ini.

Baca juga :Saat Software Mulai Menghambat Operasional, Di Mana Kesalahannya?


 
Apakah artikel ini membantu?
Bagikan: