8 Masalah Penjual Marketplace yang Bikin Order Banyak Tapi Untung Tipis

buat sistem omnichannel marketplace

8 Masalah Penjual Marketplace yang Bikin Order Banyak Tapi Untung Tipis

Jualan di marketplace memang gampang. Tinggal foto produk, upload, tunggu orderan masuk. Tapi kok lama-lama makin ribet ya? Apalagi kalau sudah jualan di beberapa marketplace sekaligus - Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, Lazada.

Order numpuk, tapi malah bikin pusing kepala. Kejar setoran sana-sini, buka-tutup banyak tab, sampai lupa makan siang. Belum lagi kalau ada yang salah, langsung kena complain dan rating jelek.

Dari pengalaman kami membantu banyak seller yang sudah scale up bisnisnya, ternyata masalahnya hampir sama. Bukan soal produk yang jelek atau harga yang mahal, tapi lebih ke sistem operasional yang berantakan.

Ini 8 masalah klasik yang bikin seller marketplace stress padahal orderannya banyak:

Masalah #1: Overselling - Jual Barang yang Stoknya Sudah Habis

Pagi-pagi cek HP, ada notif order masuk dari Shopee. Seneng dong. Eh tunggu, barang yang dipesan itu baru aja laku di TikTok Shop tadi malam. Stok tinggal 1, tapi ada 2 orang yang pesan dari marketplace berbeda. Mulai deh drama.

Kenapa ini sering terjadi?

Karena stok di setiap marketplace dikelola sendiri-sendiri. Stok di Shopee 10, di Tokopedia juga 10, di TikTok juga 10. Padahal stok fisik di gudang cuma 10. Begitu laku 1 di Shopee, harusnya stok di Tokopedia dan TikTok juga berkurang jadi 9. Tapi karena manual, ya nggak update.

Seller yang rajin mungkin langsung update manual satu-satu. Tapi kalau lagi ramai orderan? Atau pas tengah malam tidur? Ya kecolongan deh. Jual barang yang sebenarnya stoknya udah habis.

Dampaknya:

Terpaksa cancel order. Pembeli kecewa, kasih rating jelek. Yang lebih parah, marketplace kasih penalti karena tingkat pembatalan tinggi. Akun bisa di-limit atau bahkan di-suspend. Padahal bukan niat nipu, cuma karena sistem stoknya nggak sinkron.

Masalah #2: Buka-Tutup Banyak Tab Sampai Loading Lemot

Pagi login Shopee, cek order, balas chat. Buka tab baru login Tokopedia, cek order lagi, balas chat lagi. Buka tab baru lagi login TikTok Shop, cek... udah, laptop mulai ngelag. Browser penuh tab, loading lemot, kadang harus refresh berkali-kali.

Realita sehari-hari seller:

Bayangkan punya 5 toko di Shopee, 3 toko di Tokopedia, 2 toko di TikTok Shop, dan 1 toko di Lazada. Itu 11 akun yang harus di-manage. Setiap pagi harus login satu-satu, cek order satu-satu, balas chat satu-satu.

Belum lagi kalau harus update harga karena supplier naik harga. Harus masuk ke setiap toko, klik edit produk satu-satu, ubah harga satu-satu. Kalau punya 100 produk di 11 toko, itu 1100 kali edit. Mau gila!

Dampaknya:

Waktu habis cuma buat urusan admin. Seharusnya fokus mikir strategi marketing, riset produk baru, atau negosiasi dengan supplier. Malah habis waktunya buat hal-hal teknis yang sebenarnya bisa diotomasi.

Masalah #3: Chat Pelanggan Numpuk Sampai Telat Balas

Ada notif chat masuk dari Shopee. Baru mau balas, eh ada notif lagi dari Tokopedia. Belum selesai, TikTok Shop juga bunyi. Ujung-ujungnya ada yang kelewat nggak kebales.

Masalahnya:

Setiap marketplace punya sistem chat sendiri. Shopee Chat, Tokopedia Chat, TikTok Chat. Nggak bisa dibalas dalam satu tempat. Harus buka aplikasi atau web masing-masing.

Pertanyaannya pun itu-itu aja:

  • "Kak, ready stock?"
  • "Bisa COD nggak?"
  • "Kapan dikirim?"
  • "Ada warna lain?"

Tapi ya tetap harus dijawab satu-satu di setiap marketplace. Capek ketik jawaban yang sama berulang-ulang.

Dampaknya:

Respon time lambat. Rating performa chat turun. Padahal marketplace kayak Shopee dan Tokopedia sangat memperhatikan kecepatan respon. Kalau respon time lambat, produk nggak muncul di halaman pertama pencarian. Traffic turun, penjualan juga turun.

Masalah #4: Packing dan Kirim Pesanan Jadi Kacau Balau

Ada 50 pesanan hari ini dari berbagai marketplace. Admin packing bingung mana yang harus didahulukan. Mana pesanan yang pakai express, mana yang same day, mana yang reguler. Semua tercampur aduk.

Yang sering terjadi:

Pesanan dari Shopee dicampur dengan pesanan dari Tokopedia. Nggak ada urutan jelas mana yang deadline pickup-nya duluan. Akhirnya ada yang kelewat nggak di-pickup kurir. Atau salah input resi - resi Shopee malah diinput ke order Tokopedia.

Label pengiriman harus cetak satu-satu dari setiap marketplace. Tokopedia cetak di tokopedia.com, Shopee cetak di shopee.co.id, TikTok cetak di seller.tiktok.com. Buka website sana-sini, print sana-sini.

Dampaknya:

Proses packing jadi lambat. Admin kewalahan. Pesanan yang harusnya dikirim hari ini malah terlambat. Marketplace kasih penalti keterlambatan pengiriman. Performa seller turun, produk nggak muncul di pencarian.

Masalah #5: Laporan Penjualan Berantakan, Nggak Tahu Untung Berapa

Akhir bulan mau rekap berapa sih untung bulan ini. Buka satu-satu laporan penjualan dari setiap toko. Download Excel dari Shopee, download lagi dari Tokopedia, download lagi dari TikTok. Terus digabung manual. Ribet!

Kenapa laporan penjualan seller marketplace sering berantakan?

Karena datanya tersebar di banyak tempat. Mau tahu total penjualan semua channel? Harus gabungin manual. Mau tahu produk mana yang paling laris? Harus bandingkan satu-satu.

Belum lagi kalau ada potongan biaya dari marketplace - komisi, ongkir subsidi, biaya iklan, cashback. Semuanya beda-beda sistemnya. Tokopedia dipotong A, Shopee dipotong B, TikTok dipotong C. Hitung manual lagi deh untung bersihnya.

Dampaknya:

Nggak tahu produk mana yang sebenarnya menguntungkan. Nggak tahu marketplace mana yang paling efektif. Nggak tahu strategi apa yang harus ditingkatkan. Semua keputusan bisnis jadi based on feeling, bukan data.

Masalah #6: Promo dan Flash Sale Bikin Pusing

Ada flash sale di Shopee jam 10 pagi. Harus ubah harga jadi Rp 99.000. Tapi di Tokopedia dan TikTok nggak ikut flash sale, tetap harga normal Rp 150.000.

Masalahnya:

Kalau stok nggak dikontrol ketat, bisa-bisa yang laku di flash sale Shopee itu stok yang harusnya buat Tokopedia. Soalnya harga Shopee lebih murah, jadi ludes duluan.

Atau sebaliknya, habis flash sale lupa naikin harga lagi ke harga normal. Jadi rugi jual dengan harga promo terus meskipun event sudah selesai.

Belum lagi kalau ada promo gratis ongkir, voucher cashback, atau bundle deal. Setiap marketplace beda-beda mekanismenya. Ribet atur satu-satu.

Dampaknya:

Promo yang seharusnya nambah omset malah bikin rugi karena salah atur harga atau salah alokasi stok. Margin tipis, bahkan bisa minus kalau nggak hati-hati.

Masalah #7: Copy Produk ke Toko Lain Makan Waktu Lama

Udah capek-capek bikin deskripsi produk yang menarik, foto produk yang bagus, variasi lengkap. Eh ternyata harus upload ulang manual ke marketplace lain. Copy paste satu-satu, upload foto satu-satu, atur variasi satu-satu.

Kenapa cross-listing produk itu ribet?

Karena setiap marketplace punya format berbeda. Shopee punya kategori A, Tokopedia punya kategori B. Variasi di Shopee pakai sistem X, di TikTok pakai sistem Y. Nggak bisa langsung copy paste begitu saja.

Kalau punya 1000 produk di Shopee dan mau upload semua ke Tokopedia, harus upload manual 1000 kali. Atau pakai jasa VA yang bayarnya lumayan mahal.

Dampaknya:

Ekspansi ke marketplace baru jadi lambat. Harusnya produk bisa dijual di semua channel secepat mungkin, tapi tertunda karena proses upload yang ribet. Kehilangan momentum penjualan.

Masalah #8: Susah Scale Up Karena Sistemnya Manual Semua

Omset sudah lumayan, mau tambah karyawan buat bantu. Tapi kok tetap aja ribet ya? Admin A handle Shopee, Admin B handle Tokopedia. Tapi stok gudangnya kan satu. Jadi tetap harus koordinasi mulu.

Kenapa susah scaling bisnis marketplace?

Karena semua proses masih manual dan nggak terintegrasi. Nambah 1 orang malah nambah 1 masalah baru - koordinasi jadi makin ribet.

Belum lagi kalau mau buka toko baru atau ekspansi ke marketplace lain. Semua harus diatur dari nol lagi. Nggak ada sistem yang bisa di-scale dengan mudah.

Dampaknya:

Stuck di level yang sama. Omset mentok di angka tertentu, nggak bisa naik lagi. Padahal sebenarnya masih banyak potensi, cuma sistem operasionalnya nggak support untuk grow lebih besar.


Solusi untuk Semua Masalah: Sistem Integrasi Marketplace

Delapan masalah di atas pasti nggak semuanya dialami seller. Tapi kalau ada 3-4 saja, itu sudah cukup bikin stress dan menghambat pertumbuhan bisnis.

Untungnya, semua masalah ini bisa diselesaikan dengan satu solusi: sistem integrasi marketplace atau omni channel yang menghubungkan semua toko online Anda dalam satu dashboard.

Bukan sekedar dashboard biasa, tapi sistem yang benar-benar terintegrasi dengan API resmi marketplace. Stok sinkron otomatis, pesanan masuk langsung ke satu tempat, chat terpusat, laporan tergabung.

Kenapa Harus Pakai Sistem Integrasi?

1. Satu Stok untuk Semua Marketplace

Ini yang paling penting. Dengan sistem integrasi, Anda cuma punya satu master stok. Laku 1 di Shopee, stok di Tokopedia, TikTok, dan Lazada otomatis berkurang. Real-time. Nggak perlu update manual. Zero overselling.

2. Kelola Semua Toko dalam Satu Layar

Nggak perlu buka-tutup banyak tab lagi. Semua order dari semua marketplace masuk ke satu dashboard. Tinggal filter, sort, dan proses. Laptop nggak ngelag, waktu lebih efisien.

3. Balas Chat dari Satu Tempat

Chat dari Shopee, Tokopedia, TikTok, semua masuk ke satu inbox. Balas langsung dari satu dashboard. Bisa pakai template auto-reply untuk pertanyaan yang sering ditanyakan. Respon time jadi cepat, rating performa naik.

4. Cetak Label Massal

Centang pesanan yang mau dikirim, klik cetak. Semua label dari berbagai marketplace langsung print dalam satu kali klik. Nggak perlu buka website satu-satu. Admin packing happy, proses jadi cepat.

5. Laporan Penjualan Tergabung

Dashboard menampilkan total penjualan dari semua marketplace. Produk apa yang paling laris? Marketplace mana yang paling menguntungkan? Jam berapa peak order? Semua data tersedia, real-time.

6. Update Harga dan Produk Massal

Supplier naik harga? Tinggal ubah di master data, otomatis update ke semua toko di semua marketplace. Nggak perlu edit satu-satu. Hemat waktu berjam-jam.

7. Copy Produk Antar Toko Mudah (Cross-listing)

Fitur scrape memungkinkan copy ribuan produk dari satu toko ke toko lain dengan cepat. Mapping otomatis kategori dan variasi sesuai format masing-masing marketplace. Upload 1000 produk bisa selesai dalam hitungan jam, bukan minggu.

8. Mudah Di-Scale Up

Mau buka toko baru? Tinggal connect ke sistem. Mau tambah admin? Tinggal buat akses dengan hak berbeda. Semua terintegrasi dalam satu sistem. Koordinasi jadi gampang, scaling jadi mudah.

Kenapa Harus Custom, Bukan Software Jadi?

1. Setiap Bisnis Punya Kebutuhan Unik

Seller fashion beda kebutuhannya dengan seller elektronik. Seller yang dropship beda dengan yang punya gudang sendiri. Sistem template nggak akan bisa mengakomodasi semua keunikan ini.

2. Integrasi dengan Sistem yang Sudah Ada

Mungkin Anda sudah pakai software akuntansi tertentu, atau sistem WMS untuk gudang. Sistem custom bisa diintegrasikan dengan tools yang sudah ada, jadi nggak perlu ganti semua dari awal.

3. Fitur yang Benar-Benar Dibutuhkan

Dengan sistem custom, Anda nggak perlu bayar untuk fitur yang nggak akan pernah dipakai. Sebaliknya, fitur spesifik yang Anda butuhkan bisa ditambahkan.

Misalnya bisnis Anda perlu integrasi dengan sistem ERP perusahaan induk, atau perlu fitur khusus untuk manajemen konsinyasi. Software jadi nggak punya fitur ini. Tapi sistem custom bisa.

4. Kepemilikan Penuh

Dengan sistem custom, data pelanggan, data transaksi, semua jadi aset perusahaan Anda sepenuhnya. Nggak tergantung vendor yang bisa saja naik harga atau menghentikan layanan.

Keuntungan Nyata Menggunakan Sistem Integrasi Marketplace

Mari kita balik semua masalah tadi jadi keuntungan:

Dari masalah #1 ke solusi: Stok sinkron real-time. Laku di marketplace A, stok di marketplace B, C, D otomatis update. Zero overselling, zero pembatalan pesanan, performa akun aman.

Dari masalah #2 ke solusi: Satu dashboard untuk semua. Nggak perlu buka 10-20 tab. Laptop ringan, proses cepat, waktu efisien. Yang tadinya butuh 3 jam sekarang cukup 30 menit.

Dari masalah #3 ke solusi: Chat terpusat dengan auto-reply. Respon time rata-rata turun dari 30 menit jadi 2 menit. Rating performa naik, produk masuk halaman pertama pencarian, traffic meningkat.

Dari masalah #4 ke solusi: Proses pesanan massal. Filter by deadline pickup, by kurir, by marketplace. Cetak label sekaligus, update resi otomatis. Kapasitas packing meningkat 200% dengan SDM yang sama.

Dari masalah #5 ke solusi: Dashboard analytics menampilkan semua data dalam satu layar. Total omset, profit margin per produk, performa per marketplace. Keputusan bisnis jadi berbasis data yang akurat.

Dari masalah #6 ke solusi: Manajemen promo jadi mudah. Set harga khusus untuk flash sale, tentukan durasi, otomatis kembali ke harga normal setelah event selesai. Stok flash sale terpisah dari stok reguler.

Dari masalah #7 ke solusi: Cross-listing otomatis. Copy 1000 produk dari Shopee ke Tokopedia dalam 1 jam. Edit massal deskripsi, variasi, dan harga. Ekspansi ke marketplace baru jadi cepat.

Dari masalah #8 ke solusi: Sistem yang scalable. Tambah toko tinggal connect API. Tambah admin tinggal set user access. Semua terintegrasi, koordinasi mudah. Bisnis bisa grow 5x lipat tanpa chaos operasional.

Investasi yang Worth It

"Wah pasti mahal banget ya sistem kayak gitu?"

Coba kita hitung kerugian dari masalah-masalah tadi:

  • Penalti overselling dan late shipping: Rp 5.000.000/bulan
  • Waktu terbuang untuk urusan admin: Rp 10.000.000/bulan (opportunity cost)
  • Kehilangan penjualan karena respon lambat: Rp 15.000.000/bulan
  • Potensi ekspansi tertunda: Rp 20.000.000/bulan

Total kerugian per bulan: Rp 50.000.000

Setahun itu Rp 600.000.000 yang sebenarnya bisa Anda hemat atau maksimalkan!

Bandingkan dengan investasi sistem integrasi marketplace yang berkisar Rp 40.000.000 - Rp 100.000.000 (tergantung kompleksitas dan jumlah marketplace yang diintegrasikan). ROI bisa tercapai dalam 2-4 bulan pertama.

Setelah itu? Pure efficiency gain dan growth acceleration untuk tahun-tahun berikutnya. Tanpa biaya langganan yang memberatkan.

Kenapa Memilih doIT untuk Sistem Integrasi Marketplace Anda?

1. Pengalaman 8+ Tahun di Bidang IT dan Digital Marketing

Sejak 2017, doIT dipercaya berbagai klien dari berbagai industri termasuk e-commerce. Kami paham betul tantangan seller marketplace dan tahu bagaimana teknologi bisa jadi solusi.

2. Integrasi API Resmi Marketplace

Kami bekerja dengan API resmi Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, dan Lazada. Bukan scraping ilegal yang berisiko akun di-banned. Semuanya legal dan aman.

3. Solusi IT dari A hingga Z

Bukan cuma bikin sistem lalu kabur. Kami dampingi dari konsultasi, development, instalasi server, training tim, hingga support berkelanjutan. One-stop solution untuk semua kebutuhan IT Anda.

4. Garansi Bugs/Error Lifetime

Kami memberikan garansi perbaikan bug dan error seumur hidup tanpa biaya tambahan. Sistem ini jadi investasi jangka panjang, bukan proyek jangka pendek.

5. Legalitas Resmi sebagai PKP

doIT resmi dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dengan NPWP: 09.544.734.6-8403.000. Kami berikan faktur pajak resmi untuk kebutuhan pelaporan keuangan perusahaan Anda.

6. Custom 100% Sesuai Kebutuhan

Setiap fitur disesuaikan dengan workflow bisnis Anda. Butuh integrasi dengan sistem WMS? Bisa. Butuh fitur khusus untuk pre-order? Bisa. Butuh dashboard khusus untuk investor? Bisa juga.

7. No Hidden Cost

Tidak ada biaya langganan bulanan. Sistem ini jadi aset perusahaan selamanya. Biaya rutin hanya untuk server hosting (jika pakai cloud) yang jauh lebih murah dari benefit yang didapat.

Baca juga :Berapa Biaya SEO per Bulan? Panduan Lengkap & Rekomendasi Terbaik


Langkah Selanjutnya

Kalau Anda serius mau scale up bisnis marketplace dan mengatasi masalah operasional yang menghambat pertumbuhan, saatnya upgrade ke sistem yang lebih baik.

Konsultasi gratis dengan tim doIT sekarang untuk:

  • Diskusi masalah spesifik yang Anda hadapi
  • Demo sistem integrasi marketplace yang sudah kami kembangkan
  • Penawaran fitur custom sesuai kebutuhan bisnis Anda
  • Estimasi biaya dan timeline implementasi

Jangan biarkan sistem operasional yang berantakan menghalangi potensi bisnis Anda. Ambil keputusan sekarang, rasakan efisiensi nyata dalam 1-2 bulan ke depan.

Hubungi Kami:


doIT - Partner IT Terpercaya untuk Transformasi Digital E-Commerce Anda

8+ Tahun Pengalaman di Bidang IT & Digital Marketing | Garansi Lifetime | PKP Resmi | Custom 100% Sesuai Kebutuhan


 

Penilaian Anda

Related Articles

Mempercepat Indeks Google: Panduan Lengkap

doIT.co.id - Apakah Anda pernah menemukan situs web Anda sulit ditemukan di hasil pencarian...

Naked Backlink - Panduan Lengkap dan Pentingnya untuk SEO 2025

Di tahun 2025, strategi SEO makin berkembang pesat. Banyak teknik lama yang ditinggalkan dan...

Cloud Hosting Plesk: Kelebihan dan Manfaat untuk Website Anda

Apa Itu Cloud Hosting Plesk? Cloud Hosting Plesk adalah solusi hosting berbasis cloud yang...

Cloud Hosting Indonesia: Solusi Tepat untuk Website Cepat dan Stabil

Mengapa Memilih Cloud Hosting Indonesia? Bisnis online membutuhkan hosting yang andal, cepat,...

Jasa SEO Tangerang: Optimasi Website Profesional untuk Bisnis Lokal

Mengapa Bisnis di Tangerang Butuh Jasa SEO? Saat ini bisnis semakin kompetitif, memiliki...